Logo Babel

Berita

Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett

Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett
Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett

  Air Anyir – Akibat listrik byar pett saat menginap di hotel, Joko Widodo Presiden RI langsung memerintahkan menteri BUMN agar Bangka Belitung...

Jokowi Gerah Lihat Listrik Byar Pett

Fajrina Andini/Surianto

Diskominfo Babel

10 tahun yang lalu

 

Air Anyir – Akibat listrik byar pett saat menginap di hotel, Joko Widodo Presiden RI langsung memerintahkan menteri BUMN agar Bangka Belitung diberikan prioritas pengadaan kelistrikan. Diharapkan pembangunan Groundbreaking Mobile Power Plant (MPP) berkapasitas 35.000 MW di PLTU Desa Air Anyir, Merawang, Kabupaten Bangka dapat menjadi solusi.

“Bapak, Ibu harus tahu. Pembangunan pembangkit listrik memakan waktu sangat lama. Kalau membangun pembangkit listrik batubara, bisa memakan waktu sekitar empat sampai lima tahun. Tapi kalau memakai pembangkit MPP atau pakai gas bisa selesai sekitar enam bulan,“ ungkapnya saat berada di Air Anyir, Rabu (1/6/2016). 

Jokowi mendarat di Bandara Depati Amir sekitar pukul 14.35 WIB. Ini merupakan kunjungan Presiden yang kedua setelah Juni 2015 lalu. Presiden tiba menggunakan kemeja putih celana panjang hitam didampingi Iriana Jokowi. Tampak Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung beserta isteri dan Pangdam II Sriwijaya menyambut RI 1 tersebut.

Pembangunan Groundbreaking Mobile Power Plant (MPP) membuat Bangka Belitung  mendapatkan pasokan listrik cukup banyak. Presiden menambahkan, sedangkan pembangkit yang sedang proses pembangunan berkapasitas 100 MW diharapkan dapat selesai dalam waktu tiga tahun. Namun sekarang sudah ada penambahan daya sekitar 50 MW dan ini sudah cukup.

“Perkembangan industri hotel dan kebutuhan rakyat paling tidak sudah diantisipasi. Jangan sampai saya datang lagi masih byar pett. Semuanya harus diantisipasi jangan sampai terjadi lagi. Sebelum kejadian harus dikalkulasi,“ tegasnya.

Pengadaan listrik 35.000 MW di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke merupakan keharusan. Jokowi ingin mengejar pencapaian tersebut dengan cara apapun. Berdasarkan laporan yang diterimanya sampai akhir tahun lalu sudah tanda tangan Power Purchase Agreement (PPA) 17.300 MW. Sedangkan untuk groundbreaking ada 8.000 MW.

Menurut Jokowi, ini progressnya jelas. Ada tanda tangan dimulai groundbreaking. Proses realisasi akan terus diikuti, karena tidak ingin persoalan listrik masih terjadi pada tahun 2018-2019. Namun untuk mencapai semua keinginan itu dibutuhkan kerja keras, sehingga persoalan di masyarakat terselesaikan.

“Hari ini akan melakukan groundbreaking MPP yang pertama berkapsitas 35.000 MW. Enam pembangkit terdiri dari MPP Bangka 2x25 MW, MPP Belitung 1x25 MW, MPP Paya Pasir Medan 3x25 MW, MPP Nias 1x25 MW, MPP Balai Pungut Duri 3x25 MW, MPP Tarahan Lampung 4x25 MW,” jelasnya.

Rakyat juga diminta untuk ikut memantau. Dikatakan Jokowi, janji Dirut PLN pembangunan MPP selesai September 2016 mendatang. Jika tidak selesai, Gubernur diminta untuk melaporkan langsung. Kemudian dilanjutkan ke menteri BUMN dan Dirut PLN.

Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung bangga menjadi tuan rumah groundbreaking enam pembangkit listrik MPP yang akan memperkuat sistem kelistrikan regional Sumatera. Adanya penambahan daya listrik tersebut dapat memberikan kesejahteraan masyarakat.

Kondisi pasokan listrik  di Bangka Belitung saat ini belum aman untuk kebutuhan bisnis dan industri. Ia menambahkan, secara bertahap pemerintah provinsi bersama PT PLN Bangka Belitung sudah mulai memenuhi kebutuhan tersebut dengan membentuk tim percepatan pembangunan ketenagalistrikan di Bangka Belitung.

“Saya berharap kepada Presiden, agar proses lelang pembangunan PLTG berkapasitas 100 MW di Mentok, Kabupaten Bangka Barat sudah dilaksanakan. Kemudian PLTU Bangka I berkapasitas 2x100 MW di Kabupaten Bangka Tengah di tahun 2022-2023, PLTG kapasitas 40 MW tahun 2018 dapat terealisasi,” ungkapnya.

Pilihan Tepat

Hal senada disampaikan Sofyan Basir Direktur Utama  PLN. Menurutnya pemilihan pembangkit jenis MPP untuk mempercepat rasio elektrifikasi di regional Sumatera sangat tepat. Mengingat waktu pembangunan pembangkit MPP relatif singkat. Pembangkit ini menggunakan gas sebagai bahan bakar, sehingga lebih ramah lingkungan.

“Keenam pembangkit ditargetkan beroperasi tahun ini. Sistem kelistrikan Sumatera tahun 2016 terdiri dari Sumatera bagian utara melayani Aceh, Sumatera Utara. Sub sistem Sumatera melayani Provinsi Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Ada juga sistem kelistrikan Bangka Belitung, Kepulauan Riau serta sistem isolated seperti Nias, Mentawai dan pulau-pulau kecil lainnya,” jelasnya.

Sistem Sumatera bagian utara memiliki beban puncak sebesar 2.090 MW dan daya mampu 2.327 MW, cadangan daya 237 MW atau sekitar 11 persen. Ia mengatakan, untuk sistem Sumatera bagian selatan dan tengah, beban puncaknya 2.041 MW dan daya mampu pembangkit 2.827 MW dengan cadangan daya 426 MW atau sekitar 15 persen.

Tahun 2017 diharapkan sistem Sumatera sudah terhubung jaringan 275 kV. Mulai beroperasinya pembangkit baru, diprediksi cadangan listrik bisa mencapai 32 persen. Penambahan 11.000 MW dari pembangkit baru program 35.000 MW serta jaringan transmisi 500 kV yang menghubungkan Sumatera Selatan dan Sumatera Utara sampai Aceh sepanjang 1.300 kilometer (km) diharapkan bisa selesai tahun 2019.

“ PLN berkonsentrasi penuh menjalankan amanah pemerintah melalui program 35.000 MW. Target kami untuk regional Sumatera, tahun 2016 mensuplai daya pasok hingga 6.036 MW. Untuk itu diharapkan ada cadangan daya untuk Sumatera, yakni sebesar 1.068 MW dan 172 MW,” ungkap Sofyan. 

Sumber
Diskominfo Babel
Penulis
Fajrina Andini/Surianto
Editor
Huzari, Adi Tri Saputra
Fotografer
Nona Dian Pratiwi/Adi Tri Saputra