Berita
Gubernur: Tingkatkan Daya Saing IKM Berbasis OVOP
Pangkalpinang – Industri Kecil Menengah (IKM) yang berdaya saing dapat berkompetisi dalam industri nasional. Hal tersebut yang mendorong Pemerintah Provinsi...
Gubernur: Tingkatkan Daya Saing IKM Berbasis OVOP
Fajrina Andini
Dinas Kominfo
10 tahun yang lalu
Pangkalpinang – Industri Kecil Menengah (IKM) yang berdaya saing dapat berkompetisi dalam industri nasional. Hal tersebut yang mendorong Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus berupaya mendorong IKM dengan basis One Village One Product (OVOP).
“Sebuah produk sangat menentukan identitas produk suatu daerah tertentu, jadi orang tau oleh-oleh khas masing-maing daerah,” demikian diungkapkan Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung saat membuka acara Pencanangan Industri Kecil Menengah (IKM) 2016, Penyerahan piagam penghaargaan One Village One Product (OVOP) 2015 dan Penyerahan Bantuan bagi IKM di ruang Pasir Padi Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (7/1/2016).
Gubernur sangat berharap bahwa pelaku IKM di Provinsi Kepulaun Bangka Belitung terus meningkatkan kreatifitasnya agar dapat bersaing dengan produk olahan khas dari daerah lainnya.
“Harus kreatif, jaga mutu, jaga kualitas dan higienis, agar banyak yang beli dan otomatis peningkatan kesejahteraan masyarakat di Bangka Belitung semakin meningkat,” katanya.
Selain itu program pariwisata yang saat ini terus didorong oleh Pemerintah juga dapat bersinergi dengan program pemberdayaan IKM.
Pada kesempatan yang sama Yuliswan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan bahwa Dinasnya telah melakukan upaya-upaya pertumbuhan dan pemberdayaan IKM di Bangka Belitung.
“Kami juga terus melakukan pelatihan-pelatihan serta sosialisasi pada tahun 2015 dengan peserta sebanyak 513 peserta, baik IKM yang baru maupun yang sudah eksis selama ini,” ungkapnya.
Yuliswan juga menjelaskan pertumbuhan IKM di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2015 sekitar 4,24 persen, bertambah menjadi 457 unit usaha dan menyerap tenaga kerja sebanyak 669 tenaga kerja.
Lebih jauh Yuliswan memaparkan, dari data BPS menunjukkan kontribusi terhadap pengolahan terhadap PDRB di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 20,80 persen. Pada triwulan ketiga tahun 2015 berdasarkan struktur industri pengolahan makanan dan minuman memiliki proporsi terbesar 5698 unit Industri Mikro Kecil dan 30 unit industri menengah besar dengan serapan tenaga kerja mencapai 15.997 orang dengan kotribusi terhadap PDRB sebesar 8,69 persen.
“Untuk itu industri makanan dan minuman yang didominasi industri olahan hasil laut dapat dijadikan industri unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sehingga fokus pengembangan kedepan dapat lebih terarah dan terukur,” harapnya.
Untuk penggunaan OVOP dan koperasi komoditi dikatakan Yuliswan akan diseleseksi, dengan kategori produk berupa makanan ringan, minuman sari buah dan sirup buah, kain tenun, batik, kerajinan anyaman dan kerajinan gerabah.
“Persyaratan untuk diseleksi, memiliki keunikan, berkualitas ekspor, berproduksi secara kontinue, dan memiliki legalitas usaha. Untuk proses seleksi ditingkat provinsi dilakukan tim seleksi tingkat provinsi dan forum koordinas kementerian perindustrian dan perdagangan,” paparnya.
Lebih jauh Yuliswan menjelaskan dari 13 produk OVOP di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dimana salah satu produk Getas Rizky dari Bangka Selatan yang mendapatkan penghargaan Bintang Empat.
“Produk IKM ini dianggap yang memiliki daya saing baik untuk pasar lokal maupun pasar global,” katanya.
Mengenai sertifikasi halal, Yuliswan juga mengungkapkan berdasarkan UU No.33 Tahun 2014 tentang jaminan produk halal bahwa sejak tahun 2013 - 2015 sebanyak 106 industri pangan sudah mendapatkan sertifikat halal secara gratis dari Disperindag Provinsi Kepualauan Bangka Belitung.
“Dan pada Desember 2014 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendapatkan Penghargaan sebagai Provinsi Peduli Halal pada Halal Awards, untuk tahun 2016 ini fasilitas sertifikasi halal akan dilaksanakan di Kabupaten Bangka dan Bangka Barat sebanyak 26 IKM,” ungkapnya.
Yuliswan juga menambahkan kehadiran LPPOM MUI yang sudah terbentuk di Bangka Belitung sejak Oktober 2015, dapat membantu memberikan rasa aman kepada konsumen.
“Agar industri restoran makanan dan minuman di Bangka Belitung lebih banyak lagi mendapatkan sertifikasi halal, dan pada tahun 2019 seluruh industri pangan di Bangka Belitung sudah tersertifikasi halal. Dan kami juga memberikan pelatihan sistem jaminan halal bagi auditor,” tambahnya.
Dalam menyongsong MEA ditegaskan Yuliswan kemasan yang menarik dan standar merupakan salah satu point penting dalam daya saing. Sejak tahun 2013 Disperindag telah membuka klinik kemasan, konsultasi dan desain kemasan secara gratis bagi ratusan IKM.
Disela-sela acara Jumika, Pelaku IKM Getas merk Rizky dari Bangka Selatan menjelaskan kepada reporter babelprov bagaimana kiat-kiat untuk mendapatkan piagam bintang empat memberikan tips kepada pelaku IKM yang lain di Bangka Belitung untuk dapat mempertahankan kualitas dari produknya.
“Kita dari awal sudah berjuang untuk mempertahankan mutu, kualitas bahan baku, dan higienisnya juga.
Jumika mengaku sangat bahagia, akan tetapi ini merupakan langkah untuk maju dan berkompetisi di dunia usaha baik dalam skala lokal maupun nasional.
“Usaha yang sudah dirintis sejak tahun 1987, saat ini sudah memiliki 10 orang pegawai akan terus diperjuangkan sekuat mungkin dengan kreatif dan inovatif,” tutupnya.
Sumber
Dinas Kominfo
Penulis
Fajrina Andini
Editor
Fotografer
Suci Lestari
ID
EN