Logo Babel

Berita

Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata

Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata
Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata

Tempilang – Pesta adat Perang Ketupat diyakini Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung mampu menjadi nilai tambah bagi pengembangan sektor pariwisata...

Gubernur: Bersinergi Membangun Sektor Pariwisata

Surianto

Diskominfo Babel

9 tahun yang lalu

Tempilang – Pesta adat Perang Ketupat diyakini Rustam Effendi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung mampu menjadi nilai tambah bagi pengembangan sektor pariwisata. Selain itu, budaya adat ini dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian yang berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung.

"Harus saling mendukung, bersinergi dan menjaga kondusivitas wilayah. Saya yakin percepatan pembangunan di sektor pariwisata mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat," kata Gubernur saat menghadiri Sedekah Ruwah dan Pesta Adat Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning, Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (29/5/2016).

Semua pihak hendaknya dapat menjaga dan melestarikan adat istiadat. Ia menambahkan, jangan sampai hilang tergerus budaya asing dan kemajuan teknologi informasi. Jaga potensi budaya dan adat istiadat khas Tempilang, karena ini adalah aset daerah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan kegiatan ini sebagai warisan budaya tak benda.

Adat istiadat ini merupakan potensi budaya, sehingga dapat menjadi salah satu potensi untuk dijual kepada wisatawan. Gubernur menegaskan, pariwisata menjadi merupakan sektor unggulan menggantikan sektor pertambangan. Bangka Belitung tidak hanya punya wisata pantai, tapi juga wisata budaya yang unik. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pariwisata di Bangka Barat.

“Pertumbuhan pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Sinergitas antara semua pihak, baik pemerintah pusat, provinsi, pemkab, pihak swasta dan masyarakat akan sangat membantu mewujudkan percepatan pembangunan,” ujarnya.

Sebelumnya, Parhan Ali Bupati Bangka Barat menjelaskan mengenai kegiatan adat budaya asli Tempilang ini telah dilaksanakan selama puluhan tahun. Budaya ini harus tetap lestari, karena sudah menjadi aset daerah. Selain itu, Pantai Pasir Kuning Tempilang menjadi salah unggulan wisata Bangka Barat dan merupakan pusat wisata.

“Kita memiliki wisata sejarah, wisata pantai dan wisata budaya. Wisata budaya seperti Pesta Adat Perang Ketupat ini harus kita lestarikan agar perkembangan pariwisata di Bangka Barat semakin baik," ajak Parhan.

Masyarakat Antusias

Pantauan tim babelprov.go.id, di lokasi pelaksanaan Perang Ketupat, tamu undangan dan masyarakat tampak antusias menyaksikan pesta adat ini. Tak hanya masyarakat Bangka Belitung, sebab tampak hadir perwakilan dari Kemenag RI dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau.

Kegiatan ini disiarkan langsung secara streaming melibatkan kru In-Radio Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tak hanya itu, sebab dinas yang menjadi ujung tombak kehumasan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung ini juga menurunkan kendaraan Mobile Community Acces Point (MCAP) untuk melakukan sosialisasi penggunaan internet secara sehat dan cerdas.

Edi Purmono Kades Tempilang mengatakan, perayaan perang ketupat ini telah dilaksanakan selama puluhan tahun. Pelaksanaan acara ini tepat tepat saat ruwahan di Tempilang. Perang Ketupat mengambil tempat Pantai Kuning Tempilang, sedangkan ruwahan dan adat nganggung –makan bersama– dilaksanakan di Masjid Jami' Tempilang.

"Dari tahun ke tahun pelaksanaan kegiatan ini semakin baik dan cukup ramai. Banyak masyarakat datang sejak kemarin untuk menyaksikan Perang Ketupat dan Ruwahan di Tempilang," ujarnya.

Hendra salah satu warga yang menjadi peserta Perang Ketupat mengatakan, kegiatan ini merupakan budaya asli Tempilang. Budaya seperti ini harus tetap dijaga dan dilestarikan. Sebagai pemuda ingin melestarikan dan menjaga budaya ini karena sangat unik.

“Saya sangat senang melakukan Perang Ketupat tadi. Itu hanya sebuah prosesi adat, jadi tak ada dendam jika terkena lemparan ketupat oleh kelompok lawan,” jelasnya.

Prosesi Adat

Awal prosesi adat ini, terdapat beberapa penampilan seperti, tarian Serimbang, tarian Kedidi dan tarian Seramo. Terdapat tahapan pelaksanaan Pesta adat Perang Ketupat, yakni Penimbongan atau pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercaya bermukim di darat. Lalu Ngacak yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus di laut.

Kemudian melakukan prosesi Taber Kampung yang bertujuan membuang Tasak Besek (penyakit kulit dan Buyung Sumbang (perzinahan), sebab Perang Ketupat merupakan simbol memerangi kejahatan makhluk halus yang menggganggu masyarakat setempat. Berlanjut melakukan Ngayot Perae (menganyutkan perahu) sebagai simbol memulangkan tamu-tamu makhluk halus yang datang dari luar Tempilang.

Usai digelar serangkaian upacara tersebut, menurut Atok Keman Tokoh Adat setempat, ada pantangan-pantangan yang harus ditaati masyarakat yaitu, dilarang berkelahi dalam rumah tangga, tidak boleh berkerubung kain sarung di tengah kampung, menjemur kain di pagar dan bersiul.

Sedangkan pantangan di laut, dilarang menangkap ikan dengan cara apapun selama beberapa hari. Tidak boleh mencuci panci, kuali dan perlengkapan melahirkan, dilarang berjuntai kaki di sungai atau laut, dilarang memukul kain di air, dilarang mencuci daging ayam di air sungai atau laut serta dilarang mencuci kelambu di sungai atau laut.

Sumber
Diskominfo Babel
Penulis
Surianto
Editor
Huzari, Adi Tri Saputra
Fotografer
Adi Tri Saputra