Logo Babel

Berita

Babel Mengalami Depresi Nilai Ekspor dan Impor

Babel Mengalami Depresi Nilai Ekspor dan Impor
Babel Mengalami Depresi Nilai Ekspor dan Impor

Pangkalpinang – Nilai ekspor dan impor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami depresi.  Januari lalu, nilai ekspor hanya US$48, 98 juta. Angka...

Babel Mengalami Depresi Nilai Ekspor dan Impor

Fajrina Andini

Dinas Kominfo

10 tahun yang lalu

Pangkalpinang – Nilai ekspor dan impor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami depresi.  Januari lalu, nilai ekspor hanya US$48, 98 juta. Angka tersebut menurun tajam dibanding nilai ekspor bulan sebelumnya yang mencapai US$110,30 juta. Sedangkan nilai impor Januari tercatat US$3,7 juta atau menurun 57,44 persen dibanding bulan sebelumnya senilai US$8,69 juta.

Darwis Sitorus Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan, ekspor ini terbagi atas ekspor timah sebesar US$33,02 juta dan non timah sebesar US$15,96 juta. Timah merupakan ekspor terbesar yaitu berperan 67,41 persen dari total ekspor. Tujuan utama timah yaitu Singapura US$12,09 juta atau 36,61 persen dari keseluruhan ekspor timah.

“Kemudian dikuti India US$7,72 juta (23,40 persen), Republik Korea US$5,82 juta (17,63 persen), Belanda US$2,06 juta (6,25 persen) dan Taiwan US$1,71 juta (5,19 persen). Sedangkan komoditi utama penyumbang ekspor non timah terbesar berdasarkan kode Harmonized System (HS) 2 digit adalah golongan minyak atau lemak hewani dan nabati,” kata Darwis saat jumpa pers di Kantor BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (1/3/2016).

Ekspor golongan minyak atau lemak hewani dan nabati memberi sumbangan sebesar US$11,1 juta. Ia menjelaskan, jumlah tersebut berperan 69,5 persen terhadap total ekspor non timah.  Diikuti golongan kopi, teh dan rempah-rempah US$2,7 juta (16,8 persen). Berbagai produk kimia (HS 38) sebesar US$0,7 juta (4,6 persen) dan ikan dan krustasea, moluska serta invertebrata air lainnya US$0,6 juta (3,8 persen).

Ekspor non timah dengan tujuan negara Pakistan mencapai US$4,5 juta. Darwis menjelaskan, komoditi ekspor terbesar adalah crude palm oil. Posisi kedua ditempati negara Singapura mencapai nilai US$4,4 juta dengan komoditi ekspor terbesar adalah palm oil. Kemudian Republik Korea US$3,4 juta, Malaysia US$2,5  juta dengan hasil perikanan dan olahan serta Jepang US$0,6 juta. Sedangkan pada bulan Januari ini tidak ada ekspor ke negara Belanda

Berbicara mengenai angka impor, ia mengatakan, Januari lalu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan transaksi senilai US$3,7 juta. Nilai tersebut menurun hingga 57,44 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai US$8,69 juta. Nilai impor terbesar untuk golongan mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84) sebesar US$0,16 juta atau berperan 78,61 persen terhadap impor total. Diikuti pupuk (HS 31) sebesar US$,02 juta (8,57 persen)

Terdapat lima negara utama asal impor. Ia mengatakan, Malaysia merupakan negara terbesar sumber impor hingga US$2,40 juta atau berperan 64,79 persen terhadap total impor. Diikuti Singapura US$1,28 juta (34,62 persen) dan China US$0,02 juta (0,58 persen). Januari lalu tidak ada impor dari negara Thailand dan Belgia. Jika dibandingkan Desember 2015, terlihat penurunan total impor dari lima negara utama hingga 56,23 persen.

“Penurunan terbesar dari Thailand sebesar 100 persen, karena pada Desember mencapai US$2,70 juta. Sedangkan di Januari 2016 tidak ada impor dari negara ini. Penurunan ini diikuti Singapura terbesar 72,07 persen dari sebelumnya US$4,59 juta menjadi US$ 1,28 juta. Disisi lain terjadi peningkatan nilai impor dari Malaysia yang meningkat sebesar 116,79 persen yaitu dari US$1,11 juta menjadi US$2,40,” jelasnya.

Sumber
Dinas Kominfo
Penulis
Fajrina Andini
Editor
Huzari, Adi Tri Saputra
Fotografer
Fajrina Andini