Logo Babel

Berita

Babel Mampu Tekan Impor Barang

Babel Mampu Tekan Impor Barang

Pangkalpinang – Akhir tahun lalu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mampu menekan nilai impor. Terhitung Desember 2015, nilai impor hanya berada diangka US$8,...

Babel Mampu Tekan Impor Barang

Rizky Fitrajaya, Huzari

Dinas Kominfo

10 tahun yang lalu

Pangkalpinang – Akhir tahun lalu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mampu menekan nilai impor. Terhitung Desember 2015, nilai impor hanya berada diangka US$8,69 juta atau meningkat sekitar 0,92 persen dibandingkan November yang sebesar US$8,62 juta. Namun jika dibandingkan nilai ekspor US$110,30 juta, tentunya nilai impor ini menjadi prestasi bagi Bangka Belitung.

Menurut Darwis Sitorus Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hingga Januari sampai Desember 2015 yang mempunyai nilai impor terbesar yaitu golongan mesin/pesawat mekanik (HS 84) sebesar US$9,99 juta. Nilai ini diikuti golongan kapal laut dan bangunan terapung (HS 89) sebesar US$5,51 juta. Sedangkan untuk komoditi pupuk berada diangka US$0,96 juta.

Selain itu, jelasnya, Bangka Belitung juga merupakan provinsi yang mengimpor mesin peralatan listrik (HS 85) senilai US$0,69 juta. Mengenai impor benda-benda dari besi dan baja (HS 73) mencapai angka US$0,60 juta. Untuk produk keramik, nilai impor menembus angka US$0,18 juta. Sejumlah komoditi impor tersebut didatangkan dari lima negara seperti Singapura.

“Singapura merupakan negara terbesar sumber impor yaitu menembus angka US$30,33 juta. Dengan nilai impor tersebut menyumbang 60,80 persen dari total nilai impor Bangka Belitung. Kemudian diikuti negara Malaysia dengan nilai impor US$10,81 juta. Negara Malaysia menberikan kontribusi impor Babel sebesar 21,67 persen,” jelasnya saat jumpa pers di Kantor BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (1/2/2016).

Masih terdapat tiga negara lainnya yang juga menjadi pengimpor bagi Bangka Belitung. Ia menjelaskan, sejumlah negara tersebut di antaranya Thailand sebesar US$5,74 juta, Tiongkok US$1,11 juta dan negara Belgia sebesar US$0,78 juta. Jika dibandingkan November 2015, lima negara asal impor yang mengalami peningkatan yaitu Tiongkok sebesar 484,11 persen. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan beberapa negara pengimpor lainnya.

“Negara asal impor yang mengalami penurunan yaitu Singapura dan Malaysia masing-masing sebesar -38,47 persen dengan nilai penurunan US$4,59 juta dan 3,81 persen senilai US$1,11 juta. Sementara negara Belgia tidak melakukan impor,” ungkapnya.

Sumber
Dinas Kominfo
Penulis
Rizky Fitrajaya, Huzari
Editor
Huzari, Adi Tri Saputra
Fotografer
Rizky Fitrajaya